Dahlan Iskan Gemas Obat Murah Hepatitis Nggak Dilirik

farmasi Kimia FarmaSaat ini perusahaan farmasi Kimia Farma sudah bisa memproduksi obat lamivudin dengan merek Heplav untuk hepatitis. Tapi sayangnya belum banyak orang yang tahu dan mengenal obat ini, serta belum merata distribusinya.

“Saya ingin tahu apakah produk ini sudah diketahui masyarakat atau belum, harganya berapa dan seberapa banyak masyarakat mengetahui hal ini. Tadi pagi saya mengecek hasilnya kurang memuaskan, di salah satu apotek kimia farma tidak ada obat ini,” ujar Menteri BUMN Dahlan Iskan, dalam acara peringatah hari hepatitis sedunia di gedung Kemenkes, Jakarta, Sabtu (28/7/2012).

Lebih lanjut Dahlan Iskan menuturkan ketika ia bertanya pada front desknya dan asisten apotekernya juga tidak tahu mengenai obat ini. Ia pun meminta diteleponkan ke apotek kimia farma yang lainnya dan untungnya disana ada.

“Ternyata obat Heplav ini bukan tidak ada di semua apotek, tapi kurang merata,” ujar Dahlan Iskan.

obat HeplavSelain itu ketika ia berusaha untuk mengecek bagaimana obat ini laku di pasaran, ternyata sekali lagi hasilnya kurang menarik karena hanya laku 36 kapsul dalam satu bulan. Padahal obat ini harus diminum setiap hari, jadi bagaimna orang bisa membelinya per kapsul.

“Saya cek seluruh Indonesia 360 botol per bulan. Ini masih sangat kecil dibanding dengan total orang yang menderita hepatitis. Lamivudin yang diproduksi kimia farma ini bekerja sama dengan India harganya 150 ribu per botol,” ungkapnya.

Sementara itu Menkes Nafsiah Mboi menuturkan untuk meningkatkan penggunaan obat ini akan dipromosikan pada petugas kesehatan dan dokter mengenai obat lamivudin buatan kimia farma ini.

“Pendekatan ke petugas kesehatan, kalau dokternya nggak meresepkan kan pasiennya nggak bisa akses. Lamivudin ini juga dipakai untuk pasien AIDS, jadi ini obat anti virus. Ada macam-macam salah satunya ini untuk hepatitis dan AIDS,” ujar Menkes.