Kontrol konsumsi Garam

Kontrol konsumsi GaramBadan Penelitian Kanker Dunia (WCRF) merekomendasikan pengurangan garam dalam makanan. Hal ini bertujuan mengurangi risiko kanker lambung. Sebagaimana dikutip BBC, Minggu ( 22/7 ). WCRF menyatakan, tiap tahun ditemukan 6.000 kasus kanker lambung di Inggris.
Yang sudah terbiasa mengonsumsi garam setiap kali memasak, tentu tidak enak menyantap makanan dengan rasa hambar. Itu sebabnya, hampir semua jenis masakan pasti dibubuhi berbagai macam perasa. Salah satu jenis perasa makanan yang paling banyak digunakan adalah garam, atau nama lainnya natrium klorida NaCl.
Diperkirakan 14 persen kasus itu bisa dicegah dengan mengurangi asupan garam ( sodiom ). Asupan sodiom direkomendasikan 6 gram per hari atau seukuran satu sendok teh. Namun kebanyakan orang mengonsumsi 8,6 gram garam per hari.

Kita sering mengira bahwa hanya jenis makanan asin saja yang mengandung garam. Padahal, hampir semua jenis masakan, baik itu kue, roti, keripik, atau berbagai jenis lauk-pauk, terkandung garam di dalamnya.
” Kanker lambung sulit diobati secara tuntas. Kebanyakan kasus ini ditemukan pada stadium lanjut. Karena itu, pencegahan menjadi penting, ” ujar Kate Mendoza, Kepala Informasi WCRF. Selain kanker, pola makan tinggi garam juga memicu penyakit hipertensi, jantung dan stroke.
Dalam jumlah tidak berlebih, garam diperlukan tubuh untuk menjaga keseimbangan cairan, kekuatan otot serta fungsi saraf. Jadi, mulai sekarang sebaiknya kita memperhatikan asupan garam yang terkandung dalam makanan yang menjadi santapan rutin setiap hari. Sebab seperti kata pepatah, penyakit parah itu timbul karena kebiasaan buruk yang sedikit-sedikit lama-lama jadi bukit.