Mengatasi Alergi Telur Dengan Telur

Mengatasi Alergi Telur Dengan TelurAnak-anak memang terkenal rentan mengalami berbagai jenis alergi terhadap makanan. Setelah kacang, alergi yang sering terjadi pada anak-anak adalah alergi telur padahal keduanya sering dikonsumsi oleh anak-anak.

Untuk mengatasi alergi tersebut, sejumlah dokter di Amerika Serikat mencoba membalikkan kondisi alergi pada beberapa anak dan remaja dengan memberi telur dalam jumlah yang kecil setiap hari selama 1-2 tahun agar sistem kekebalan mereka ‘belajar’ untuk menerima salah satu bahan makanan yang paling banyak ditemui dan tersembunyi dalam berbagai makanan mulai dari pasta, burger, mayonaise hingga marshmallow tersebut.

Namun metode ini masih belum bisa dicoba sendiri di rumah. Metode ini membutuhkan pengawasan khusus selama beberapa tahun karena reaksinya masih bisa memunculkan risiko tersendiri, ungkap tim dokter yang terlibat dalam studi ini.

“Terapi eksperimental ini hanya dapat dilakukan secara aman oleh dokter yang terlatih,” ujar Dr. Anthony Fauci, direktur National Institute of Allergy and Infectious Diseases yang mensponsori studi ini.

Metode ini juga tak bisa mengatasi kondisi alergi pada setiap orang, bahkan beberapa partisipan keluar dari studi ini karena tak tahan dengan reaksi alerginya.

“Namun hasilnya benar-benar menunjukkan adanya potensi pengobatan terhadap alergi telur di masa depan sehingga perlu diujicobakan pada anak-anak dalam cakupan yang lebih luas,” terang ketua tim peneliti, Dr. A. Wesley Burks, kepala departemen pediatrics di University of North Carolina, Chapel Hill.

Lebih dari 2 persen anak-anak di seluruh dunia mengalami alergi telur, ditandai dengan mengi atau bengek, sakit tenggorokan atau bahkan reaksi-reaksi yang membahayakan nyawa saat memakan berbagai jenis dan varian telur, kata Burks. Banyak anak yang mengalami kondisi ini pada usia 4-5 tahun ke atas hingga remaja.

Kekhawatiran terbesarnya adalah jika anak-anak ini memakan makanan yang berbahan telur namun mereka tidak menyadarinya lalu memunculkan reaksi yang hebat. Oleh karena itu, studi ini berupaya untuk melatih sistem kekebalan tubuh anak-anak agar bisa mentolerir telur, dalam jumlah yang kecil sekalipun, untuk mencegah terjadinya alergi.

Studi ini melibatkan 55 anak berusia 5-18 tahun. 40 anak diberi bubuk putih telur, bagian yang biasanya menyebabkan alergi dalam dosis kecil dan berlangsung setiap hari. 15 anak lainnya diberi telur dari tepung kanji sebagai pembanding. Jumlahnya ditambah setiap dua minggu hingga anak-anak di kelompok pertama mampu memakan sekitar sepertiga telur setiap harinya.

Secara periodik, partisipan mendatangi para dokter untuk mencoba memakan telur. Partisipan dianggap gagal menjalani ujicoba jika dokter bisa melihat gejala-gejala seperti mengi atau bengek.

Setelah setahun, tak ada partisipan dari kelompok kedua yang berhasil melewati tantangan. “Di akhir tahun pertama, separuh dari anak-anak di kelompok pertama berhasil lolos. Namun di akhir tahun kedua, 75 persen partisipan dinyatakan lolos,” terang Burks seperti dilansir dari huffingtonpost, Kamis (19/7/2012).

Kemudian, Burks mengambil langkah lebih jauh dengan meminta partisipan memakan telur secara langsung meski dalam porsi yang kecil juga. Hal ini untuk melihat apakah partisipan bisa mentolerir telur tanpa menggunakan bubuk putih telur.

Hasilnya, partisipan yang lolos ujicoba kedua terbukti mampu berhenti menggunakan bubuk putih telur lalu setelah menghindari makan telur secara menyeluruh selama 4-6 minggu, partisipan diminta mencoba makan telur lagi sesuka mereka. 11 dari 30 anak pun terbukti mampu melakukannya tanpa masalah.

Studi ini telah dipublikasikan dalam New England Journal of Medicine.