Tips Bidan Sri: Kotrasepsi Itu Suatu Kebutuhan

Tips Bidan SriSaat ini pertumbuhan penduduk di Indonesia terbilang cepat sehingga kondisinya sudah cukup mengkhawatirkan. Untuk itu penggunaan kontrasepsi merupakan suatu kebutuhan.

“Kontrasepsi itu suatu kebutuhan, karena kalau nggak nanti jumlah penduduk Indonesia makin banyak,” ujar Bidan Sri Helmi Yulihartati saat ditemui detikHealth di kliniknya di Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta, seperti ditulis Senin (3/9/2012).

Bidan Sri berharap kondisinya bisa seperti zaman dulu lagi yang mana masyarakat menyadari kontrasepsi suatu kebutuhan, dan ibu-ibu yang masih usia subur bisa menggunakan kontrasepsi.

Diketahui pada jaman dahulu orang yang menggunakan kontrasepsi diberikan hadiah misalnya setengah lusin gelas, lalu dikasih penghargaan kalau sudah pakai kontrasepsi selama 5 tahun atau 10 tahun dan petugas di lapangan bisa memback-up.

“Saat ini hambatan untuk penggunaan kontrasepsi sudah tidak terlalu besar dan kesadaran masyarakat Jakarta sendiri mengenai KB sudah meningkat,” ujar Bidan Sri yang sudah berpraktek sejak tahun 1982.

Bidan Sri menuturkan kadang ada yang datang sudah tahu mau pakai kontrasepsi apa, hanya saja perlu diarahkan karena kadang masyarakat masih percaya dengan mitos-mitos yang salah.

Untuk itu perlu dilakukan konseling sebelumnya yang mana petugas kesehatan akan menjelaskan semua jenis kontrasepsi yang ada beserta baik buruknya seperti efek samping, serta dari segi praktis dan ekonomisnya.

“Untuk keputusannya semua tergantung akseptor sendiri dan harus konsultasi atau persetujuan dengan suami dulu, untuk kontrasepsi jangka panjang ada inform concern dulu karena ini suatu tindakan, agar kalau terjadi apa-apa tidak saling tuntut,” ungkapnya.

Bidan Sri mengungkapkan hambatan yang sulit kalau pakai spiral atau IUD, karena banyak mitos yang beredar di masyarakat. Misalnya katanya nanti spiralnya masuk ke bagian perut mana, saat berhubungan suaminya nggak bisa kena, sakit saat memasangnya dan tidak semua orang tahan ada alat asing di dalam tubuhnya.

“Hal ini perlu diluruskan karena sebenarnya kalau spiral itu praktis, serta kalau memasangnya tepat maka spiral ini nggak akan pindah-pindah,” ujar Bidan Sri yang lahir di Sleman 52 tahun silam.

Selain itu sekarang juga sedang digalakkan pasang spiral atau IUD pasca plasenta. Jadi setelah bayi lahir dan plasenta keluar maka langsung dipasang spiralnya sehingga prosesnya sekaligus.

Diketahui tingkat kegagalan yang paling rendah itu adalah pil KB, tapi jika seseorang diketahui tidak disiplin maka sebaiknya pilihlah yang sudah pasti dan untuk jangka panjang seperti susuk (implan) atau spiral (IUD).

Bidan Sri yang juga mengajar di Akademi Kebidanan Bhineka Jakarta Satu ini biasanya menyarankan perempuan yang sudah memiliki 3 orang anak dan usianya lebih dari 35 tahun untuk menggunakan kontrasepsi jangka panjang. Tapi jika tidak mau pakai yang jangka panjang bisa memilih yang jangka pendek. Ini lebih baik dibandingkan tidak pakai kontrasepsi sama sekali.