Wanita yang Jalani Operasi Usus Buntu Tetap Hamil

usus buntuTak selamanya rumor yang beredar di masyarakat benar adanya. Sama halnya dengan rumor tentang wanita yang pernah menjalani operasi usus buntu. Kabarnya wanita ini akan susah hamil karena operasi tersebut membuat jaringan parut menempel ke saluran telur (tuba falopi) sehingga menghalangi sel-sel telur masuk ke rahim.

Para pakar di Dundee University pun menemukan hal sebaliknya. Menurut para pakar, wanita yang telah menjalani operasi untuk menghilangkan usus buntunya (apendektomi) masih memiliki kesempatan yang besar untuk hamil.

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Fertility and Sterility ini mengungkapkan bahwa tim peneliti dari Dundee University menggunakan salah satu database kedokteran terbesar di dunia yaitu UK General Practice Research Database.

Dari situ peneliti menemukan bahwa dari 76.000 wanita yang telah menjalani operasi usus buntu atau apendektomi, 39 persen diantaranya hamil untuk pertama kalinya dalam 10 tahun. Padahal bagi wanita yang belum pernah dioperasi, kemungkinannya hamil untuk kedua kalinya hanya 28 persen.

Kesimpulan ini pun didapatkan setelah mempertimbangkan faktor usia, penggunaan alat pengontrol kelahiran, jumlah rawat inap dan faktor lainnya.

“Kami tidak mengatakan bahwa seorang wanita harus menjalani apendektomi terlebih dulu agar kesempatannya untuk hamil meningkat. Namun hasilnya justru menunjukkan bahwa wanita yang memerlukan apendektomi tak perlu khawatir dengan masalah kesuburannya. Takut mandul setelah menjalani apendektomi itu tidak berdasar,” ujar Mr. Sami Shimi, seorang dokter bedah dari Dundee University dan salah satu peneliti studi ini seperti dilansir dari dailymail, Kamis (5/7/2012).

Mr. Shimi mengaku meluncurkan studi ini setelah banyak pasien wanitanya yang mengeluh takut tak punya kesempatan untuk berkeluarga pasca operasi.

“Banyak pasien yang mengira akan mandul setelah apendektomi. Namun ketika saya melihat laporan terkait hal ini, datanya sangat lemah. Lalu kami memutuskan untuk menggelar studi yang lebih besar dengan menggunakan database pasien yang lebih besar juga,” tambah Mr. Shimi.